Peringatan keras datang dari petinggi Shell plc yang menyebut Asia sebagai wilayah pertama yang akan merasakan dampak krisis energi global. Situasi ini bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman serius yang berpotensi menjalar ke seluruh dunia.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar energi. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia. Jika terjadi gangguan, maka pasokan energi global bisa langsung terguncang.

Asia Selatan disebut sebagai wilayah pertama yang merasakan dampaknya, diikuti oleh Asia Tenggara dan Asia Timur Laut. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan kawasan tersebut terhadap impor energi. Ketika pasokan terganggu, harga langsung melonjak dan menekan ekonomi domestik.

"Asia Selatan yang pertama merasakan dampaknya. Itu kemudian bergeser ke Asia Tenggara, Asia Timur Laut, dan kemudian lebih jauh ke Eropa saat kita memasuki April," kata Sawan dalam konferensi industri minyak di negara bagian Texas, dikutip dari The Guardian, Kamis (26/3/2026).

Penutupan Selat Hormuz menjadi pukulan besar bagi pasar energi global. Jalur vital yang selama ini menjadi nadi distribusi minyak dunia kini terganggu, memicu kekhawatiran krisis energi yang meluas.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, tempat sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah melewati. Ketika akses ini ditutup, pasokan minyak global langsung tersendat. Dampaknya paling cepat dirasakan di kawasan Asia, terutama Asia Selatan dan Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor energi.

Lonjakan harga minyak menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Biaya logistik meningkat, inflasi berpotensi melonjak, dan tekanan terhadap ekonomi semakin besar. Negara-negara industri di Asia menghadapi risiko perlambatan pertumbuhan akibat mahalnya energi.

$BTC

BTC
BTCUSDT
81,063.5
+0.27%

$XAU

XAU
XAUUSDT
4,702.56
+0.60%

$XAG

XAG
XAGUSDT
84.5
+4.98%