GILA. Ini bukan lagi soal bisnis, ini soal dugaan diskriminasi terhadap perusahaan AS.

Laporan resmi House Judiciary Committee AS menyebut pemerintah Korea Selatan diduga menjalankan kampanye regulator yang diskriminatif terhadap Coupang, perusahaan e-commerce berbasis AS yang dikenal sebagai "Amazon of Asia".

Faktanya menurut laporan:
- Setelah kebocoran data pada 2025 yang dilakukan mantan karyawan, Coupang mengaku bersalah, meminta maaf, dan CEO Park Dae-jun mengundurkan diri.
- Pihak perusahaan mengklaim kebocoran ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan awal dan sudah menjelaskan hal itu kepada otoritas Korea Selatan.
- Meski begitu, pemerintah Korea Selatan disebut tetap menggempur Coupang dengan puluhan investigasi, ribuan permintaan dokumen, denda yang sangat besar, hingga ancaman tuntutan pidana terhadap CEO sementara Harold Rogers, seorang warga negara AS.
- Laporan itu juga menuduh badan intelijen Korea Selatan memaksa Coupang melakukan operasi rahasia mengambil laptop milik mantan karyawan dari sungai di Shanghai, lalu disebut menutupi keterlibatan mereka kepada publik.
- Akibat tekanan tersebut, menurut laporan, kapitalisasi pasar Coupang anjlok lebih dari 40%, merugikan investor dan perusahaan.

Ketua Komite Kehakiman DPR AS menyebut tindakan ini sebagai contoh pemerintah asing yang menggunakan hukum dan regulasi sebagai senjata untuk melemahkan perusahaan Amerika dan menghambat persaingan global.

Laporan itu juga menegaskan dugaan perlakuan Korea Selatan terhadap Coupang melanggar perjanjian perdagangan AS–Korea Selatan yang diperbarui pada 2025.

Perlu dicatat, ini adalah tuduhan dan temuan dalam laporan House Judiciary Committee AS. Pemerintah Korea Selatan belum memberikan tanggapan resmi terhadap laporan tersebut.

Kalau benar regulator dipakai sebagai alat untuk menghancurkan kompetitor, maka ini bukan lagi penegakan hukum—ini menjadi persoalan serius tentang kepastian hukum, kepercayaan investor, dan kredibilitas iklim investasi.

#Binance $BTC