Setelah mencapai rekor tertinggi baru di $125.000, harga Bitcoin (BTC) kini mengalami tekanan signifikan, turun tajam ke kisaran $107.000 dan bahkan sempat menguji area support kuat di $101.000. Sentimen pasar mulai berubah — dari euforia “to the moon” menjadi fase ketakutan dan ketidakpastian.

Banyak trader bertanya: Apakah ini hanya koreksi sehat sebelum BTC kembali naik? Atau justru tanda bahwa puncak bull cycle sudah tercapai?

Artikel ini membedah kondisi pasar Bitcoin terbaru, dari sisi fundamental, likuiditas, geopolitik, hingga psikologi pasar, untuk memahami apakah harga bisa pulih — atau akan terus melemah sebelum membentuk struktur bullish berikutnya.

$BTC

BTC
BTC
90,641.14
+1.02%

Dari Euforia ke Realitas: Kenapa Bitcoin Mulai Terkoreksi?

Setelah menembus level psikologis $100.000 pada kuartal pertama 2025, Bitcoin memasuki fase FOMO ekstrem (Fear of Missing Out). Investor ritel dan institusional berlomba masuk, mempercepat rally ke $125.000 dalam waktu singkat. Namun, ketika terlalu banyak posisi long terbuka di area atas, pasar menjadi “liquidation heavy zone” — di mana likuiditas di bawah harga terkumpul dan siap diambil.

Penurunan tajam ke $101.000 bukanlah kebetulan, tetapi hasil dari likuidasi masif posisi leverage tinggi. Data dari Coinglass menunjukkan lebih dari $1,8 miliar posisi long dilikuidasi hanya dalam 48 jam. Ini menunjukkan bahwa tekanan jual terutama berasal dari leverage unwind, bukan perubahan fundamental mendadak.

Dengan kata lain, pasar perlu “membersihkan” leverage sebelum bisa melanjutkan tren naik yang sehat.

Faktor Geopolitik: Trump vs Xi dan Dampaknya pada Likuiditas Global

Ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali menjadi perhatian pasar global. Sejak pemerintahan Trump kedua dimulai, tensi dagang dan kebijakan proteksionisme meningkat, terutama di sektor teknologi dan kripto.

Trump diketahui mendorong kebijakan “America First Crypto Policy”, memperkuat posisi AS sebagai pusat inovasi blockchain. Namun, ini juga menciptakan efek domino — China membalas dengan kebijakan moneter ketat, menarik likuiditas dari pasar Asia.

Bagi Bitcoin, ketegangan ini menciptakan dua efek utama:

  • Likuiditas global menyusut, karena investor institusional besar menahan arus modal lintas negara.

  • Risk appetite menurun, membuat investor lebih berhati-hati dan cenderung mengamankan profit dari aset berisiko tinggi seperti crypto.

Hasilnya? Likuiditas yang sebelumnya menopang kenaikan BTC mulai mengering — dan pasar kehilangan momentum jangka pendek.

Struktur Teknis: Support $100K Jadi Level Krusial

Dari sisi teknikal, Bitcoin masih berada dalam struktur bullish makro, tetapi sinyal koreksi jangka menengah mulai terlihat jelas.

  • Support utama: $100.000 – $101.000

  • Resistance terdekat: $112.000 – $115.000

  • Support lanjutan: $96.000

Jika BTC gagal mempertahankan area $100K, potensi penurunan ke zona $95K–$96K terbuka lebar. Area ini merupakan “high liquidity zone” di mana banyak stop-loss trader ritel menumpuk. Biasanya, smart money akan mendorong harga ke area ini untuk mengambil likuiditas sebelum melanjutkan tren naik.

Namun, selama BTC tidak menembus $95K secara clean, struktur bullish jangka panjang tetap valid. Koreksi seperti ini justru bisa menjadi “reaccumulation phase” sebelum Bitcoin mencoba kembali ke level tertinggi baru.

Sentimen Pasar: Dari FOMO ke Ketakutan

Sebelum penurunan besar, indeks Crypto Fear & Greed sempat menyentuh level “Extreme Greed” di angka 91 — menandakan euforia berlebihan. Kini, indeks itu kembali turun ke kisaran 48–52, atau “Neutral Zone”

Ini menunjukkan bahwa pasar sedang menunggu arah selanjutnya — tidak cukup optimis untuk membeli agresif, tapi juga belum cukup takut untuk menjual semuanya. Biasanya, fase seperti ini sering menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.

Apakah Recovery Masih Mungkin Terjadi?

Meskipun koreksi ini terasa brutal, ada beberapa faktor yang menunjukkan peluang pemulihan masih terbuka:

a. ETF Inflows Tetap Positif

Aliran dana ke Bitcoin spot ETF masih positif, meski melambat. Data terakhir menunjukkan masuknya sekitar $420 juta net inflow dalam seminggu terakhir — tanda bahwa institusi masih membeli di harga diskon.

b. Supply on Exchanges Menurun

Jumlah Bitcoin di exchange turun ke level terendah 4 tahun. Artinya, banyak holder memindahkan BTC ke wallet pribadi — tanda kepercayaan jangka panjang tetap tinggi.

c. On-chain Metrics Masih Sehat

Rasio Long-Term Holder SOPR tetap di bawah 1.0, artinya investor lama tidak menjual di atas harga beli — sinyal tidak ada panic selling besar.

Skenario ke Depan: Dua Kemungkinan Besar

Bullish Case:

Jika BTC mampu bertahan di atas $100K dan volume beli meningkat di sekitar $107K–$112K, kita bisa melihat rebound menuju $120K dalam beberapa minggu ke depan. Katalis seperti pelonggaran likuiditas, ETF inflow baru, atau kabar positif dari sektor regulasi AS dapat mempercepat pemulihan ini.

Bearish Case:

Namun, jika tekanan makro makin kuat — misalnya eskalasi konflik ekonomi AS–China atau lonjakan imbal hasil obligasi AS — Bitcoin bisa turun lebih jauh ke area $95K–$96K sebelum stabil. Dalam skenario ekstrem, breakdown ke bawah $90K akan memvalidasi macro double-top pattern, menandakan potensi penurunan lebih dalam.

Strategi untuk Trader dan Investor

  • Trader jangka pendek: Fokus pada area likuiditas. Buy the dip di sekitar $100K hanya jika volume konfirmasi muncul.

  • Investor jangka panjang: Gunakan strategi DCA (Dollar-Cost Averaging) di bawah $110K. Koreksi besar sering menjadi peluang terbaik untuk akumulasi.

  • Perhatikan narasi makro: Kebijakan moneter, tensi geopolitik, dan pergerakan dolar AS akan sangat memengaruhi arah pasar.


Kesimpulan: Antara Ketakutan dan Kesempatan

Koreksi dari $125.000 ke $101.000 mungkin terasa tajam, tetapi dalam konteks makro bull run Bitcoin, ini bukan hal baru. Sejarah mencatat bahwa setiap siklus besar Bitcoin selalu disertai koreksi 20–30% sebelum mencapai puncak baru.

Namun, dengan likuiditas global yang masih rapuh dan tensi geopolitik yang meningkat, trader harus berhati-hati. Pasar belum siap untuk “another leg up” secara agresif — tetapi bukan berarti cerita bull run sudah berakhir.

Bagi investor sabar, fase seperti ini justru menjadi momen terbaik untuk mengatur ulang strategi, menghindari leverage berlebihan, dan bersiap menyambut potensi next leg Bitcoin menuju rekor baru setelah fase konsolidasi ini berakhir.

Disclaimer:

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum, bukan merupakan nasihat keuangan atau rekomendasi investasi. Pasar crypto sangat volatil dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (Do Your Own Research – DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.