1% orang terkaya membayar sekitar 40% total pajak. 50% terbawah? Hanya sekitar 3%. Dan tetap saja… yang kerja keras, bangun bisnis, ambil risiko, buka lapangan kerja — terus dijadikan kambing hitam oleh politisi dan media lapar tepuk tangan.
Ini bukan soal kaya vs miskin. Ini soal siapa yang terus diperas untuk menopang sistem yang makin rakus.
Kalau memang mau “keadilan sosial” yang nyata? Nolkan pajak untuk rakyat bawah. Karena buat elit Washington dan birokrat berdasi: 3% itu angka kecil di laporan. Tapi buat rakyat kecil? Itu bensin. Itu makan anak. Itu biaya hidup. Itu napas. Ironisnya, negara modern sekarang malah menghukum produktivitas. Semakin besar kontribusimu, semakin besar target di punggungmu. Orang sukses diperlakukan seperti ATM berjalan. Pengusaha diperas. Investor dihina. Orang malas dipelihara suara politiknya.
Dan media? Masih jual narasi murahan: “orang kaya penyebab penderitaan dunia.” Bullshit. Tanpa pencipta bisnis, tanpa investor, tanpa orang yang berani ambil risiko — ekonomi mati. Lapangan kerja hilang. Negara runtuh pelan-pelan sambil pura-pura moral.
Sistem pajak seharusnya membantu rakyat naik kelas. Bukan mengabadikan ketergantungan dan iri sosial. Dunia hari ini dipenuhi politisi munafik: teriak “peduli rakyat” tapi hidup mewah dari uang pajak rakyat. Mereka tidak ingin rakyat mandiri. Mereka ingin rakyat bergantung. Karena rakyat yang bergantung lebih mudah dikontrol. negara kuat dibangun oleh produktivitas. Bukan oleh victim mentality. Bukan oleh iri hati massal. Bukan oleh propaganda anti-sukses.
Kalau 50% terbawah dibebaskan dari pajak? Itu bukan “hadiah.” Itu memberi ruang hidup bagi orang yang sedang berjuang bertahan. Dan kalau ada yang masih bilang sistem ini “tidak cukup progresif”… mungkin yang mereka inginkan bukan keadilan. Mungkin yang mereka inginkan hanyalah: semua orang miskin bersama-sama.



