Debat soal “USDC freeze” muncul karena Circle, sebagai penerbit USDC, punya kemampuan teknis buat blacklist alamat dan membekukan USDC di dalamnya. Itu memicu tarik-ulur antara kepatuhan hukum vs nilai desentralisasi kripto.
Inti debatnya:
1. Circle cuma mau freeze kalau ada perintah hukum
CEO Circle Jeremy Allaire bilang Circle memperlakukan USDC sebagai produk finansial teregulasi. Mereka tidak akan blokir wallet atau freeze aset kecuali ada perintah resmi dari pengadilan atau penegak hukum AS. Allaire nyebut tindakan sepihak tanpa dasar hukum sebagai “very risky proposition”. Jadi secara kebijakan, Circle tidak ambil keputusan freeze berdasarkan tekanan publik atau dugaan semata. 4bbb7a553c27
2. Kasus yang memicu: Drift Protocol exploit ∼$270M-$285M
1 April 2026, Drift Protocol kena exploit yang diduga terkait aktor Korea Utara. Sekitar $230 juta dari dana curian diubah jadi USDC dan dipindah antar-chain selama beberapa jam. Banyak pihak, termasuk investigator ZachXBT, kritik Circle karena tidak langsung freeze wallet padahal dana masih kelihatan bergerak on-chain. ZachXBT klaim sejak 2022 sudah ada >$420 juta aliran USDC ilegal yang lolos karena Circle telat freeze. feb27a55
3. Perbandingan dengan Tether USDT
Tether sering freeze dana terkait hack/illicit activity dalam hitungan jam. Contoh: kasus Ledger dan Remitano, USDT langsung di-blacklist sementara USDC tetap bisa bergerak. Data menunjukkan Tether sudah freeze ∼$1.6 miliar USDT di 2,500+ alamat, sedangkan Circle ∼$110 juta USDC di <500 alamat. Ini bikin Circle dituduh “slow or inconsistent”.
4. Kasus lain: 16 wallet bisnis dibekukan karena kasus perdata tertutup
Circle pernah freeze USDC di 16 hot wallet milik exchange, kasino, dan platform forex karena perintah terkait kasus perdata AS yang disegel. Karena detailnya tidak dibuka, muncul kekhawatiran soal sentralisasi dan risiko sensor. ZachXBT bilang mass blacklist ini “incredibly broad” dan sudah mengganggu operasional bisnis.
5. Argumen Circle: batas hukum & perlindungan pengguna
Circle bilang fitur freeze “not discretionary” dan bukan pintu belakang. Freeze tanpa perintah hukum bisa bikin Circle kena risiko legal. Mereka juga dorong Kongres bikin “safe harbor” supaya ada dasar hukum jelas untuk bertindak cepat saat darurat. Menurut Circle, kerangka hukum yang sama justru melindungi pengguna dari penyalahgunaan kekuasaan.
Kenapa jadi debat besar?
- Pro-freeze cepat: Kecepatan blockchain tidak cocok dengan lambatnya proses hukum. Kalau nunggu surat pengadilan, hacker keburu laundering.
- Pro-hukum ketat: Kalau Circle bisa freeze sepihak, USDC jadi aset tersensor dan kehilangan netralitas. Keputusan sepihak bikin entitas swasta jadi “arbiter”.
- Sentralisasi vs Desentralisasi: USDC punya fungsi blacklist dan “wipe” di smart contract. Itu perlu untuk lawan kejahatan, tapi juga jadi bukti USDC tidak se-desentral Bitcoin.
Jadi debatnya:
haruskah penerbit stablecoin teregulasi kayak Circle punya wewenang freeze cepat demi hentikan kejahatan, atau harus patuh penuh ke proses hukum demi jaga hak properti dan netralitas? Kasus Drift bikin pertanyaan ini meledak lagi.
