Kenapa Akhirnya Gue #Belibitcoin Setelah Nunda 3 Tahun

Dulu tiap denger kata Bitcoin, reaksi gue cuma satu: "Ah udah kemahalan, telat masuk." 

Tahun 2021 liat BTC 800 juta, mikir "Nunggu turun ke 200 juta dulu deh." Pas beneran turun ke 250 juta tahun 2022, malah takut. Katanya mau mati, katanya scam.

Ternyata mentalitas "nunggu harga terbaik" itu yang bikin gue gak mulai-mulai. Padahal kalau dari awal nyicil 100 ribu per minggu sejak 2021, hasilnya udah beda banget sekarang walau sempat minus.


1. Alasan Logis Gue Mulai #Belibitcoin


Setelah baca-baca dan ngobrol sama teman yang udah lebih dulu nyemplung, ada 3 hal yang bikin klik:


Pertama, supplynya terbatas. Bitcoin cuma akan ada 21 juta koin selamanya. Gak bisa dicetak seenaknya kayak uang fiat. Kalau permintaan naik tapi barangnya segitu-gitu aja, secara teori harganya terdorong naik dalam jangka panjang. Simpelnya hukum supply demand.


Kedua, desentralisasi. Gak ada satu bank atau pemerintah yang bisa nge-freeze wallet Bitcoin lo atau melarang transaksi. Jaringannya jalan 24 jam, 7 hari seminggu, sejak 2009 tanpa pernah downtime. Buat gue yang pernah ngalamin transfer antar bank pending karena libur panjang, ini rasanya menenangkan.


Ketiga, inflasi itu nyata. Coba ingat harga nasi padang 5 tahun lalu vs sekarang. Nilai 100 ribu hari ini gak sama daya belinya dengan 100 ribu tahun 2020. Bitcoin gue anggap sebagai salah satu cara buat melindungi nilai jerih payah dari inflasi. Bukan satu-satunya cara, tapi salah satu alat di toolbox keuangan.


2. Gimana Cara Gue #Belibitcoin Tanpa Bikin Boncos


Gue bukan trader. Gue gak jago baca candle dan gak punya waktu mantengin chart. Jadi strategi gue cuma satu: DCA alias Dollar Cost Averaging.


Setiap tanggal gajian, otomatis beli Bitcoin 200 ribu. Mau harga lagi 1M per BTC atau lagi 500 juta, tetap beli 200 ribu. Kadang dapet BTC lebih banyak, kadang lebih sedikit. Tujuannya buat merata-ratakan harga beli dan ngilangin pusing mikirin "kapan waktu terbaik masuk".


Aturannya ketat: cuma pakai uang dingin. Uang yang kalau hilang besok, hidup gue gak keganggu. Gak pernah pakai uang dapur, uang kontrakan, apalagi utang. Simpan di wallet pribadi dan pakai exchange yang udah jelas legal di Bappebti.


3. Realita #Belibitcoin yang Harus Lo Tahu


Gue gak mau jualan mimpi. Ini tiga risiko yang wajib lo paham sebelum ikut-ikutan:


Volatilitasnya gila. Portofolio minus 50% dalam beberapa bulan itu normal di dunia kripto. Kalau liat merah terus panik dan jual rugi, berarti Bitcoin belum cocok buat mental lo sekarang. Itu gak apa-apa.


Scam merajalela. Karena Bitcoin udah terkenal, banyak oknum pakai namanya buat nipu. Janji profit 1% per hari, titip dana, trading robot. Semua itu bohong. Prinsipnya: Not your keys, not your coins. Kalau ada yang minta transfer dengan iming-iming gandakan Bitcoin, udah pasti penipuan.


Ini lari maraton. Bitcoin bukan skema cepat kaya. Yang beli tahun 2017 juga sempat nahan minus 3 tahun sebelum akhirnya profit. Kalau mindsetnya mau kaya bulan depan, lebih baik jangan masuk.


Jadi, Haruskah Lo #Belibitcoin?


Gue gak bisa jawab itu. Keputusan investasi balik ke profil risiko masing-masing. Tapi kalau lo udah punya dana darurat, gak punya utang konsumtif, dan penasaran sama teknologi di baliknya, gak ada salahnya mulai belajar.


Mulai dari kecil. 11 ribu rupiah juga bisa beli Bitcoin. Sambil jalan, lo akan paham kenapa komunitasnya yakin banget sama kalimat "1 BTC = 1 BTC".


Yang penting: Do Your Own Research. Jangan karena gue nulis ini terus lo langsung beli. Baca whitepapernya, pahami cara kerja blockchain, dan siapin mental buat volatility.


Kalau lo udah #Belibitcoin, share dong ceritanya di komen. Apa alasan pertama lo beli? Kalau belum, apa yang bikin masih ragu?


#Belibitcoin