Beberapa minggu terakhir saya sering melihat perdebatan yang sama di media sosial. Ada yang bilang kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja. Ada juga yang khawatir karena IHSG melemah dan Rupiah terus kehilangan tenaga terhadap Dolar AS.
Yang membuat saya tertarik, ternyata dua hal itu bisa saja benar dalam waktu yang bersamaan.
Di atas kertas, Indonesia memang tidak sedang berada dalam kondisi seperti krisis 1998. Cadangan sumber daya masih besar, konsumsi domestik masih berjalan, sektor perbankan relatif sehat, dan banyak indikator ekonomi yang sebenarnya masih cukup kuat.
Namun market tidak hanya melihat kondisi hari ini. Market selalu melihat ke depan. Dan menurut saya, di sinilah masalah utamanya muncul.
Selama ini banyak orang menganggap pergerakan saham hanya dipengaruhi faktor global. Konflik Timur Tengah, suku bunga Amerika, atau penguatan Dolar AS memang berpengaruh. Tetapi ada pandangan menarik yang mengatakan bahwa sebagian besar tekanan terhadap IHSG justru berasal dari faktor domestik.
Bukan karena ekonomi Indonesia tiba-tiba runtuh, melainkan karena muncul ketidakpastian.
Investor biasanya tidak terlalu takut pada berita buruk. Yang lebih mereka takutkan adalah ketidakjelasan.
Ketika kebijakan berubah terlalu cepat, aturan baru muncul tanpa banyak persiapan, atau muncul berbagai spekulasi yang membuat pelaku usaha kesulitan membaca arah jangka panjang, kepercayaan investor perlahan mulai berkurang.
Dan market sangat sensitif terhadap hal seperti itu.
Salah satu contoh yang cukup banyak dibahas adalah keluarnya beberapa emiten besar dari indeks global tertentu. Ditambah lagi berbagai kekhawatiran mengenai peringkat investasi Indonesia yang terus menjadi bahan diskusi di kalangan investor institusi.
Apakah semuanya pasti terjadi?
Belum tentu.
Tetapi market sering bereaksi jauh sebelum sesuatu benar-benar terjadi.
Yang menarik, tekanan tidak hanya terlihat di pasar saham. Pasar obligasi juga menunjukkan gejala yang cukup serius. Ketika investor mulai menjual obligasi dalam jumlah besar, yield naik. Dan ketika yield naik terlalu cepat, biasanya ada pesan yang sedang dikirim oleh market.
Pesan itu sederhana.
Investor meminta kompensasi yang lebih besar untuk mengambil risiko.
Karena itulah saya mulai memahami kenapa banyak investor besar saat ini lebih memilih bersikap hati-hati dibanding agresif.
Bukan berarti mereka pesimis terhadap Indonesia. Mereka hanya ingin melihat kepastian lebih dulu sebelum kembali masuk dalam ukuran besar.
Meski begitu, saya juga melihat sisi menarik dari kondisi seperti sekarang.
Ketika ketakutan sedang tinggi, biasanya banyak aset berkualitas ikut turun bersama market. Saham-saham perbankan besar seperti BMRI, BBRI, BBCA, atau BBNI misalnya, mulai diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih menarik dibanding saat kondisi sedang euforia.
Bahkan jika melihat dividend yield di beberapa harga saat ini, hasilnya mulai mendekati atau bahkan melampaui beberapa instrumen pendapatan tetap.
Tentu saja itu bukan berarti harga tidak bisa turun lagi. Bisa saja. Dan justru karena itulah saya merasa strategi terbaik saat ini bukan menjadi pahlawan yang mencoba menebak titik terendah market.
Saya lebih suka melihat periode seperti ini sebagai masa belajar.
Belajar tentang diversifikasi.
Belajar tentang manajemen risiko.
Belajar bahwa menaruh seluruh modal pada satu aset bukanlah keputusan yang bijak.
Dan yang paling penting, belajar bahwa market bearish sering kali mengajarkan lebih banyak hal dibanding market bullish.
Karena saat semua aset naik, hampir semua orang terlihat pintar.
Tetapi ketika market turun dan penuh ketidakpastian, barulah kita tahu siapa yang benar-benar memiliki rencana investasi yang matang.
Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, kalian lebih memilih menambah saham, mengoleksi obligasi, menyimpan cash, atau justru menunggu di pinggir lapangan sampai situasi lebih jelas?
