DOJ Sita Infrastruktur Cloud Huione Group, Diduga Cuci Miliaran Dolar Hasil Penipuan Kripto
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada 23 Juni 2026 mengumumkan penyitaan satu akun cloud computing yang digunakan oleh anak perusahaan Huione Group, konglomerat asal Kamboja. Akun tersebut menampung infrastruktur backend yang diduga membantu pelaku kejahatan memindahkan hasil penipuan investasi kripto dan cyber scam lintas blockchain, lalu mengonversinya ke sistem perbankan resmi tanpa terdeteksi.
Akun yang disita digunakan mengoperasikan Huione Guarantee, juga dikenal sebagai Haowang Guarantee. Menurut dokumen pengadilan, platform itu mengoperasikan kanal Telegram yang memuat penjualan data kartu kredit curian, hasil pencurian malware, perekrutan korban perdagangan manusia, hingga layanan pencucian uang dari romance scam. Huione Guarantee juga menyediakan layanan escrow bagi pencuci uang kripto.
Assistant Attorney General A. Tysen Duva menyebut akun ini sebagai tulang punggung teknologi yang memindahkan dan menyembunyikan miliaran dolar hasil penipuan, sebagian besar dari scam center Asia Tenggara. Penyitaan ini bagian dari Operation Riptide, kampanye FBI yang dimulai 9 Juni 2026.
Bersamaan dengan itu, FinCEN mengajukan aturan baru memperluas definisi Huione Group untuk mencakup H Pay Service PLC, entitas yang dinilai sebagai upaya menghindari sanksi lewat ganti nama. Treasury juga menjatuhkan sanksi baru terhadap sembilan individu dan 26 entitas terkait Prince Group.
Menurut FBI Internet Crime Complaint Center, warga AS melaporkan kerugian lebih dari 20 miliar dolar AS akibat penipuan daring pada 2025, naik 26 persen dari tahun sebelumnya. UNODC sebelumnya menyebut Huione Guarantee telah mencuci sedikitnya 24 miliar dolar AS hingga akhir 2024.
Sumber: rilis resmi DOJ dan FinCEN, 23 Juni 2026; Federal Register; liputan The Block, Decrypt, CyberScoop, thehackernews.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada 23 Juni 2026 mengumumkan penyitaan satu akun cloud computing yang digunakan oleh anak perusahaan Huione Group, konglomerat asal Kamboja. Akun tersebut menampung infrastruktur backend yang diduga membantu pelaku kejahatan memindahkan hasil penipuan investasi kripto dan cyber scam lintas blockchain, lalu mengonversinya ke sistem perbankan resmi tanpa terdeteksi.
Akun yang disita digunakan mengoperasikan Huione Guarantee, juga dikenal sebagai Haowang Guarantee. Menurut dokumen pengadilan, platform itu mengoperasikan kanal Telegram yang memuat penjualan data kartu kredit curian, hasil pencurian malware, perekrutan korban perdagangan manusia, hingga layanan pencucian uang dari romance scam. Huione Guarantee juga menyediakan layanan escrow bagi pencuci uang kripto.
Assistant Attorney General A. Tysen Duva menyebut akun ini sebagai tulang punggung teknologi yang memindahkan dan menyembunyikan miliaran dolar hasil penipuan, sebagian besar dari scam center Asia Tenggara. Penyitaan ini bagian dari Operation Riptide, kampanye FBI yang dimulai 9 Juni 2026.
Bersamaan dengan itu, FinCEN mengajukan aturan baru memperluas definisi Huione Group untuk mencakup H Pay Service PLC, entitas yang dinilai sebagai upaya menghindari sanksi lewat ganti nama. Treasury juga menjatuhkan sanksi baru terhadap sembilan individu dan 26 entitas terkait Prince Group.
Menurut FBI Internet Crime Complaint Center, warga AS melaporkan kerugian lebih dari 20 miliar dolar AS akibat penipuan daring pada 2025, naik 26 persen dari tahun sebelumnya. UNODC sebelumnya menyebut Huione Guarantee telah mencuci sedikitnya 24 miliar dolar AS hingga akhir 2024.
Sumber: rilis resmi DOJ dan FinCEN, 23 Juni 2026; Federal Register; liputan The Block, Decrypt, CyberScoop, thehackernews.