Banyak orang melihat harga minyak turun kembali mendekati level sebelum perang lalu langsung berkesimpulan, "Risiko sudah selesai."

Salah besar. Menurut analisis CNBC yang mengutip sejumlah strategis komoditas, pasar justru berpotensi meremehkan ancaman gangguan pasokan yang masih membayangi.

Setelah gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran, harga Brent memang turun kembali ke kisaran US$72 per barel dari level yang jauh lebih tinggi saat konflik memuncak. Namun turunnya harga bukan berarti kondisi di lapangan sudah normal.

Masalah sebenarnya belum selesai. Selat Hormuz masih menjadi titik paling berbahaya bagi perdagangan energi dunia.

Jalur sempit ini menjadi jalur utama pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak global. Jika aliran di sana terganggu, dampaknya bisa menjalar ke seluruh dunia.

Meski kapal-kapal yang sebelumnya terjebak mulai bergerak kembali, perusahaan pelayaran masih sangat berhati-hati.

Kenapa? Karena tidak ada kepastian bahwa gencatan senjata benar-benar akan bertahan.

Risiko ranjau laut masih ada. Premi asuransi perang masih sangat mahal.

Dan banyak perusahaan pelayaran belum berani mengambil risiko mengirim kapal mereka kembali melewati Selat Hormuz.

Artinya, kapasitas pengiriman belum kembali normal. Menurut Nikos Petrakakos dari Tufton Investment Management, kondisi saat ini masih jauh dari keadaan sebelum perang.

Yang menjadi masalah bukan sekadar kapal yang keluar dari kawasan konflik.

Yang jauh lebih sulit adalah meyakinkan kapal-kapal baru untuk masuk kembali.

Amrita Sen dari Energy Aspects bahkan mengatakan biaya pengiriman saat ini masih sangat tinggi dan jumlah perusahaan yang bersedia melewati Selat Hormuz masih terbatas.

Inilah yang banyak diabaikan pasar. Iran juga diperkirakan belum akan melepaskan pengaruhnya terhadap Selat Hormuz. Walaupun banyak analis menilai sistem tarif resmi seperti Terusan Suez kemungkinan tidak akan diterapkan, Iran diperkirakan tetap berusaha meningkatkan kontrol terhadap lalu lintas kapal. Tujuannya jelas. Memperbesar posisi tawar geopolitik sekaligus memperoleh keuntungan ekonomi setelah perang.

Masalahnya, perusahaan Barat menghadapi risiko sanksi jika harus berkoordinasi langsung dengan Iran.

Sebagian operator bahkan dikabarkan mematikan transponder kapal agar pergerakan mereka tidak mudah terlacak. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa ketidakpastian masih sangat tinggi.

Di sisi lain, perusahaan asuransi juga belum mau buru-buru menurunkan premi. Mereka ingin melihat bahwa perdamaian benar-benar berjalan selama berbulan-bulan, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.

Selama premi tetap mahal, biaya pengiriman tetap tinggi. Selama biaya pengiriman tinggi, distribusi energi global tidak akan kembali normal dengan cepat.

Belum lagi muncul persoalan baru.

Negara-negara importir kini mulai berpikir untuk mengisi kembali cadangan minyak mereka yang sempat terkuras selama konflik. Artinya, meskipun pasokan bertambah, permintaan tambahan untuk membangun kembali stok juga ikut meningkat.

Menurut BNP Paribas Markets 360, proses pengisian kembali persediaan inilah yang dapat menopang harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.

Target akhir tahun mereka masih berada di sekitar US$80 per barel.

Untuk jangka lebih panjang, mereka memperkirakan harga bergerak di kisaran US$75–85 per barel selama 2027.

Kesimpulannya sederhana. Harga memang sudah turun.

Tetapi risikonya belum ikut hilang. Selat Hormuz masih penuh ketidakpastian.

Asuransi masih mahal. Perusahaan pelayaran masih berhitung. Iran masih berusaha mempertahankan pengaruhnya. Dan dunia masih harus membangun kembali cadangan energinya. Pasar mungkin sedang merasa tenang. Namun jika salah satu mata rantai ini kembali terganggu, harga minyak bisa bergerak naik lagi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang.

#Binance $BTC

BTC
BTC
58,672
+0.20%