**Cryptografis | AI Jadi Biang Kerok, Bikin Tahun Ini Jadi Siklus Terburuk Bagi Bitcoin**
Wakil Presiden Riot Platform Pierre Rochard mengatakan tahun ini menjadi siklus terburuk sepanjang sejarah bagi Bitcoin (BTC). Ia menilai sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi biang keroknya.
Penyebabnya belanja modal dan pengembangan AI menyerap semua likuiditas dari pasar aset investasi. Artinya, aliran uang menjadi terpusat pada suatu industri yang sedang berkembang ini.
"Ini adalah siklus pasar terburuk dalam sejarah Bitcoin karena siklus belanja modal AI yang belum pernah terjadi sebelumnya menyerap semua kelebihan likuiditas," ujarnya, melansir unggahan X resminya, Selasa (30/06).
Sedangkan, menurut CEO Capital Management Anthony Pompliano meyakini modal investor yang mendapat keuntungan dari kecerdasan buatan (AI) akan mengalir ke Bitcoin dan juga emas. Dirinya sangat menunggu momen tersebut terjadi.
"Akan sangat menggembirakan ketika semua keuntungan dari investasi AI kembali mengalir ke Bitcoin dan emas," ungkapnya.
Sebagai informasi, siklus pasar Bitcoin pertama dimulai sejak tahun 2011 dengan harga US$2,30, lalu titik tertingginya US$1.163, dan berakhir di harga US$229. Pada siklus keempat kali ini, Bitcoin mengawali dengan US$15.760 hingga US$124 ribu di 2025. Akhirnya, di tahun ini aset tersebut diperdagangkan sekitar US$60 ribu.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
**Penambang Bitcoin Disebut Lebih Hemat Energi Ketimbang AI, Kenapa?**
Kepala Operasional Luxor Technology Ethan Vera mengungkapkan para penambang Bitcoin (BTC) jauh lebih hemat energi ketimbang yang dibutuhkan dalam menjalankan sebuah kecerdasan buatan (AI). Padahal, keduanya sama-sama membutuhkan konsumsi listrik dalam jumlah besar.
Alasannya adalah penambang Bitcoin dapat mengurangi beban terhadap peralatan dan daya dalam setiap alatnya. Meski begitu, operasional tetap berjalan normal tanpa ada yang harus dikorbankan alias dikurangi.
Sedangkan AI, teknologi ini membutuhkan pusat data yang berfungsi untuk menjalankan suatu platform AI. Sehingga, pusat data AI tidak dapat mengurangi beban karena harus melatih Large Language Model (LLM).
“Penambang Bitcoin dapat mengurangi beban peralatan dan daya mereka dalam hitungan milidetik tanpa kehilangan pekerjaan apa pun, sementara sebagian besar pusat data AI saat ini tidak dapat menghentikan pelatihan LLM atau beban kerja inferensi mereka tanpa mengalami kerugian besar,” ungkapnya melansir Bloomberg, Jumat (26/06).
Hal tersebut membuat operator jaringan listrik kurang mampu memenuhi kebutuhan bagi pusat data AI. Selain itu, penggunaan energi yang ekstrim dapat mencemari lingkungan, terlebih bagi pembangkit listrik yang masih menggunakan batu bara sebagai penggeraknya.
Akan tetapi, peluang efisiensi yang muncul bagi para penambang muncul kala pasar tidak memberikan peluang yang baik. Terlebih, Bitcoin sudah terkoreksi 53% dari titik tertingginya yaitu US$126 ribu, menurut CoinMarketCap.
**Jensen Huang Menyangkal AI Bisa Kurangi Lapangan Kerja: Omong Kosong**
CEO Nvidia Jensen Huang membantah anggapan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI) bisa mengurangi lapangan pekerjaan orang-orang di beberapa bidang itu hanya sebuah omong kosong.
Menurutnya, inovasi teknologi ini justru menghadirkan lapangan pekerjaan salah satunya insinyur perangkat lunak yang dibutuhkan untuk mengembangkan AI.
“Inilah janji kecerdasan buatan, jumlah insinyur perangkat lunak terus bertambah orang-orang membicarakan bahwa kecerdasan buatan akan mengurangi lapangan kerja, itu benar-benar omong kosong,” ujarnya melansir Bloomberg pada Senin (01/06).
Ia menambahkan, industri AI berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi di suatu negara bahkan dunia senilai US$9 triliun. Artinya, tidak sepenuhnya teknologi tersebut bisa berdampak hingga menggantikan suatu bidang pekerjaan.
**Powell Bernyanyi, Sebut Marwah The Fed Runtuh Gegara Kelakuan Trump**
Mantan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell membeberkan marwah dari bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut runtuh akibat ulah Presiden AS Donald Trump yang memecatnya dari kedudukan tertinggi The Fed.
Hal tersebut karena tindakan Trump yang mengutak-atik The Fed dapat menjadi contoh atau pedoman bagi pemimpin negara selanjutnya yang dapat mencoreng integritas lembaga ini.
“Jika ada pemerintahan yang menemukan cara untuk memberhentikan pejabat Fed karena perbedaan kebijakan, maka pemerintahan di masa mendatang juga akan melakukan hal yang sama. Kredibilitas The Fed akan hilang,” ujarnya melansir Bloomberg pada Senin (01/06).
Ia menambahkan, kredibilitas The Fed telah dibangun selama beberapa dekade dan memiliki kewajiban dalam melindungi lembaga itu yang tak ternilai harganya kepada masyarakat AS.
Sebagai informasi, Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua The Fed menggantikan Powell yang sudah menjabat sekitar beberapa dekade, Sabtu (24/05) lalu.
**AS-Iran Gencatan: Hormuz akan Dibuka, Tapi Bitcoin Malah Jeblok**
Para negoisator Amerika Serikat (AS) telah menyepakati untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari dengan Iran yang memungkinkan terbukanya Selat Hormuz. Akan tetapi, hal ini menunggu persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.
Langkah ini diharapkan dapat menyelesaikan konflik yang telah terjadi selama lebih dari tiga bulan. Terlebih, Wakil Presiden AS JD Vence mengatakan bahwa timnya sedang bertukar pendapat mengenai beberapa hal terkait bahwa, menurut Bloomberg.
Di sisi lain, aset digital Bitcoin (BTC) malah mengalami penurunan yang cukup signifikan dan kini berada di area perdagangan US$73 ribu. Bukan hanya itu, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin juga tertekan dengan arus dana keluar US$1 miliar dalam dua hari terakhir.
Sebagai informasi, ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Iran dilaporkan membalas serangan ASdengan menggempur pangkalan militernya. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim telah menyerang “pangkalan udara Amerika” sebagai respons atas serangan AS di dekat Bandar Abbas.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
**Demi Pecahan US$250 Bergambar Trump, Aturan Soal Dolar Bakal Diubah**
Wacana menghadirkan uang kertas pecahan US$250 dengan wajah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mencuri perhatian publik Amerika Serikat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi persiapan awal terkait rencana tersebut sudah dilakukan.
Menurut Bessent, saat ini terdapat rancangan undang-undang yang kemungkinan akan diubah di Kongres AS. Aturan itu bertujuan mengubah ketentuan yang selama ini melarang tokoh yang masih hidup tampil pada mata uang resmi Amerika.
"Saat ini ada usulan regulasi di Kongres yang memungkinkan seseorang yang masih hidup, yaitu Donald Trump, ditampilkan pada uang kertas pecahan US$250," ujar Bessent, dalam sebuah sesi tanya jawab dengan media di Gedung Putih, melansir X.
Ia menjelaskan keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan legislator di Capitol Hill. Selama proses pembahasan berlangsung, Kementerian Keuangan hanya menyiapkan berbagai skenario apabila aturan tersebut nantinya disahkan.
"Kami di Kementerian Keuangan telah melakukan persiapan sejak dini jika regulasi itu mendapat persetujuan. Namun, sampai saat ini kami tetap berpegang pada hukum yang berlaku," kata Bessent.
Pernyataan tersebut langsung memicu perbincangan hangat di kalangan publik dan komunitas politik. Jika aturan baru benar-benar lolos, Trump berpotensi menjadi tokoh hidup pertama yang wajahnya dicetak pada mata uang kertas Amerika Serikat modern.
**Wintermute Akui Hyperliquid Paling Menonjol dari Bitcoin-Ethereum**
Wintermute, market maker crypto, mengakui Hyperliquid (HYPE) menjadi yang paling menonjol disaat Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan altcoin lainnya sedang tertekan.
Dalam laporannya, Ethereum dan Bitcoin terus menunjukkan pelemahan yang berada di level terendahnya, anjlok 35% dari level tertinggi bulan Agustus tahun lalu.
"ETH terus menunjukkan pelemahan dengan ETH/BTC terus merosot, berada di level terendah 10 bulan, turun 35% dari level tertinggi Agustus. Yang paling menonjol di antara altcoin adalah HYPE," catatnya melansir akun X resminya pada Rabu (27/05).
Diketahui, pasar exchange-traded fund (ETF) Hype arus dana masuk tercatat senilai US$25,5 juta dalam satu sesi saat peluncuran perdananya. Selain itu, pergerakan harganya terlacak mencapai 63% dalam setahun, menurut CoinMarketCap.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
$BTC Bearish jangka pendek. Setup menunjukkan potensi lanjutan penurunan menuju zona demand $74.000–$75.000. Perlu pantau apakah harga bounce dari zona hijau atau malah breakdown lebih dalam. ⚠️ Ini bukan saran investasi/trading. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR). $BTC
**Crypto Gonjang-Ganjing, Dompet Bitcoin Era Satoshi Rp3,6 T Bergerak!**
Salah satu dompet era Pencipta Bitcoin Satoshi Nakamoto terlacak bergerak dengan 2.650 Bitcoin (BTC) senilai US$203 Juta atau sekitar Rp3,6 triliun ke FalconX dan Cumberland saat pasar crypto bergejolak, menurut temuan Onchain Lens.
Peristiwa ini biasanya berujung pada aksi penjualan karena ribuan Bitcoin tersebut ditransfer ke kedua platform penyedia over the couter (OTC). Hal itu agar aksi penjualannya tidak mengganggu harga pasar yang dapat menurun secara mendadak.
Sementara itu, dompet tersebut masih menyisakan 6.000 BTC senilai US$462 juta atau sekitar Rp8,2 triliun. Artinya, jika wallet itu benar melakukan penjualan, alamat itu menjualnya sebagian atau parsial.
Diketahui, dompet tersebut diduga dimiliki oleh penambang OG Bitcoin atau sudah sejak lama menambang. Sehingga, apabila alamat wallet itu benar menjualnya untuk membiayai operasional.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
**Jelang Hari Raya, Trump Bombardir Lagi Iran dengan Serangan Udara**
Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali meluncurkan serangan ke sejumlah target Iran di Selat Hormuz. Serangan itu terjadi hanya satu hari sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha di berbagai belahan dunia, termasuk Iran terjadi, pada Rabu (27/05).
Jet tempur AS dan Israel dilaporkan menyerang kapal Iran serta lokasi peluncuran rudal di sekitar Pulau Larak. Media pemerintah Iran menyebut beberapa personel tewas, meski detail korban belum diungkap sepenuhnya.
Padahal, Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat mengatakan pembicaraan damai dengan Teheran berjalan cukup positif. Namun, situasi berubah panas setelah militer AS mengklaim serangan itu dilakukan demi melindungi pasukan mereka dari ancaman Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi dengan Iran masih bisa berlangsung beberapa hari lagi. Ia menegaskan Trump hanya akan menerima kesepakatan yang dianggap menguntungkan bagi Amerika Serikat.
Konflik terbaru ini langsung mengguncang pasar global karena Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Makanya, harga minyak Brent naik mendekati US$98 per barel. Meski begitu, harga Bitcoin masih cenderung stagnan di level US$77 ribu selama beberapa hari terakhir. $BTC
** Trump Klaim Berhasil Sita Kapal Iran, Pasar Crypto Goyah**
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pasukan Angkatan Laut mereka telah menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama Touska dan tengah memeriksa apa saja yang ada di dalamnya.
“Kapal perusak rudal Angkatan Laut AS USS SPRUANCE mencegat kapal TOUSKA di Teluk Oman, dan memberikan peringatan yang jelas agar mereka berhenti. Awak kapal Iran menolak untuk mendengarkan, sehingga kapal Angkatan Laut kami menghentikan laju mereka dengan membuat lubang di ruang mesin” tulisnya di Truth Social, Senin (20/04).
Selain itu, Pernyataan Trump muncul beberapa jam setelah dia mengatakan negosiator AS akan melakukan perjalanan ke ibu kota Pakistan Islamabad untuk kemungkinan pembicaraan dengan Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
Di sisi lain, pasar crypto merespons dengan negatif dan hal ini membuat kekhawatiran akan mengganggu pasokan minyak serta memicu inflasi dan ketidakpastian geopolitik yang lebih luas.
**Sepanjang Tahun, Para Penambang Jual Ribuan Bitcoin hingga Rp38 Triliun**
Para perusahaan penambang Bitcoin (BTC) diperkirakan telah menjual ribuan aset digital tersebut yang nilainya ditaksir US$2,2 miliar atau sekitar Rp38 triliun. Peristiwa ini terjadi pada kuartal tahun 2026.
Hal tersebut dapat terjadi karena harga dari Bitcoin yang kian jatuh sejak bulan Oktober tahun lalu. Sehingga, mendorong para institusi itu untuk menjualnya yang ditujukan guna membiayai operasionalnya.
Diketahui, beberapa perusahaan seperti MARA Holdings, CleanSpark, Riot, Cango, Core Scientific, dan Bitdeer diperkirakan telah menjual lebih dari 32 ribu Bitcoin, menurut data TheEnergyMag.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._
**Iran Ungkap Kapal yang Melintas Selat Hormuz Wajib Bayar Pakai Bitcoin**
Juru Bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran Hamid Hosseini baru-baru ini menyatakan persyaratan pembayaran wajib mengunakan Bitcoin (BTC) terhadap kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Untuk itu, kapal-kapal yang ingin lewat perlu mengirim email tentang apa yang mereka bawa kepada pihak berwenang Iran.
"Begitu email tiba dan Iran menyelesaikan penilaiannya, kapal-kapal diberi waktu beberapa detik untuk membayar dengan Bitcoin, untuk memastikan mereka tidak dapat dilacak atau disita karena sanksi," ucapnya kepada Financial Times pada Kamis (09/04).
Di sisi lain, setelah pemberitaan tersebut Bitcoin naik 6% dan diperdagangkan US$70.000 setelah seminggu stagnan di level harga sekitar US$60.000.
**Alasan Bitcoin Gagahi Emas dan Balik ke US$70 Ribu**
Analis Wintermute Jasper De Maere mencatat beberapa faktor yang membuat Bitcoin (BTC) kembali ke area perdagangan US$70 ribu. Hal utamanya adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menjeda serangan militernya ke Iran selama 5 hari.
Inisiatif Trump tersebut merupakan upayanya untuk dapat bernegoisasi terkait gencatan senjata. Selain itu, lalu lintas kapal-kapal mulai kembali beraktivitas di Selat Hormuz yang dijaga ketat oleh Iran dalam perjalanannya.
Peristiwa-peristiwa tersebut membuat pasar exchange-traded fund (ETF) Bitcoin kembali bernafas lega dengan arus dana masuk alias inflow US$167 juta dalam sehari.
Menariknya, emas justru terkoreksi lebih dari 10% imbas indeks dolar AS menembus angka 100. Sementara, Bitcoin yang dikenal dengan flukutatifnya justru bisa bertahan di tengah perang antara Iran dengan AS.
"Derivatif Bitcoin tetap stabil, dengan aliran ETF secara keseluruhan positif. Kesenjangan kinerja yang dulunya sangat besar dibandingkan emas telah menyempit secara signifikan dalam beberapa minggu terakhir, masih terlalu dini untuk melakukan rotasi penuh, tetapi perbandingan struktural semakin relevan," catatnya, melansir sumber resminya pada Rabu (25/03).
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._ $BTC
**Usai AS, Kini Israel Ikut Ngemis Bantuan Dunia untuk Perangi Iran**
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali jadi sorotan setelah secara terbuka meminta negara lain membantu Israel menghadapi Iran. Pernyataan itu disampaikan saat ia meninjau lokasi serangan rudal di kota Arad.
“Sudah saatnya para pemimpin negara-negara lain bergabung. Saya senang melihat beberapa di antaranya bergerak ke arah itu, tetapi lebih banyak lagi yang dibutuhkan,” ujarnya, melansir The Jerusalem Post, Senin (23/03).
Kunjungan tersebut dilakukan setelah serangan rudal Iran dilaporkan melukai puluhan warga serta merusak sejumlah bangunan. Netanyahu pun menilai konflik ini sudah tidak lagi bersifat regional, melainkan mulai mengarah ke skala global.
Ia juga mendesak para pemimpin dunia untuk tidak tinggal diam dan mulai mengambil langkah bersama. Menurutnya, Israel tidak bisa menghadapi ancaman Iran sendirian jika eskalasi terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Netanyahu menyampaikan kemampuan militer Iran sekarang sudah jauh lebih besar. Ia bahkan menegaskan jangkauan serangan mereka bisa meluas hingga kawasan Eropa dan membuat banyak negara ikut berada dalam ancaman.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga sempat meminta bantuan negara lain untuk menghadapi Iran, terutama setelah ketegangan di Selat Hormuz memanas. Namun, sejumlah negara di Eropa justru menolak ikut terlibat dalam konflik tersebut.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang semua pembangkit listrik Iran dalam 48 jam yang dimulai jika negara Timur Tengah tersebut tidak segera membuka Selat Hormuz.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam terhitung sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai Pembangkit Listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu!," ucapnya, melansir akun Truth Social miliknya pada Minggu (22/03).
Hal tersebut membuat Bitcoin (BTC) sempat mengalami penurunan hingga di bawah US$70 ribu atau minus 3%. Akan tetapi, tidak separah yang terjadi dengan emas yang anjlok hingga 10,3%, menurut Trading View.
Peristiwa ini mencerminkan bahwa ketahanan Bitcoin kini mulai berubah meski diterpa kabar negatif. Terlebih, menurut Penasihat Bitwise Jeff Park mengatakan Bitcoin memiliki daya tahan lebih baik di antara semua aset-aset di pasar crypto, jika, keadaan kembali normal.
**Gara-gara Perangi Iran, Utang AS Bertambah US$1 Triliun Hari Ini**
Utang Amerika Serikat (AS) terus membengkak hingga tembus US$39 triliun setara Rp662 kuadriliun, pada hari ini, Kamis (19/03). Padahal, utang tersebut baru saja menyentuh US$38 triliun pada Oktober lalu.
Kenaikan yang sangat cepat dan signifikan ini terjadi di tengah perang dengan Iran yang sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Adapun, Ekonom Peter Schiff mengatakan meningkatnya biaya perang akan mempercepat kenaikan utang AS menuju US$50 triliun. Terlebih, sejak Presiden AS Donald Trump memimpin, utang AS naik sebesar US$2,8 triliun.
Selain itu, biaya pertahanan telah melonjak karena konflik di Timur Tengah telah menciptakan biaya yang mengancam stabilitas fiskal.
Bahkan, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan bahwa mengakhiri konflik dengan Iran kemungkinan akan mendorong harga minyak mentah lebih tinggi dalam jangka pendek karena pasar memperhitungkan risiko.
**Bitcoin Kembali Bersinar, Ungguli Nasdaq-Emas Sejak Perang Timteng Pecah**
Penasihat ProShares Simeon Hyman mengungkapkan Bitcoin (BTC) menjadi aset yang besinar dan mengungguli indeks saham Amerika Serikat (AS) Nasdaq serta emas, di tengah perang di Timur Tengah (Timteng).
“Jika anda melihat Bitcoin, harganya sedikit naik dan saham turun (sejak perang Iran dimulai). Jadi, saya pikir strategi diversifikasi benar-benar relevan dalam lingkungan saat ini,” ucapnya, melansir CNBC.
Hal ini terbukti bahwa Nasdaq dan emas anjlok masing-masing 0,72 persen dan 6,4 persen dalam seminggu terakhir.
Bitcoin menunjukkan kehebatannya selama perang berlangsung. Tercatat, aset digital ini menghijau dengan naik 9,6% menurut perhitungan tim Redaksi Akademi Crypto melalui Trading View.
_Disclaimer Alert. Not Financial Advice (NFA). Do Your Own Research (DYOR)._